Memurnikan perak

 Maleakhi 3 : 3

"Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan."

Seorang penempa emas dan perak memiliki kewajiban untuk memurnikan dan mentahirkan emas dan perak, bagaimana cara kerjanya? Sederhananya, emas dan perak akan dibakar dalam perapian yang menyala dan membentuk-nya untuk menjadi logam. Penempa itu akan memanaskan perak dan menjaga-nya sepanjang waktu untuk tetap terjaga kualitasnya agar tidak kelewatan batas, karena apabila kelewat batas, perak dan emas itu akan hancur oleh perapian api. Lalu, kapan penempa tersebut memutuskan bahwa logam tersebut sudah cukup untuk ditempa dan dibentuk? Setelah emas dan perak tersebut menjadi murni yang dapat memancarkan wajah dari penempa tersebut. Begitupun dengan Tuhan yang menempa dan membentuk manusia di bumi dengan berbagai cobaan untuk menjadi semakin serupa dengan Allah dan menjadi persembahan yang benar kepada Tuhan. 

Berbicara tentang serupa dengan Tuhan, sejak 1 tahun yang lalu aku mempertanyakan terus, mengapa Tuhan memilih turun ke bumi UNTUK MENYELAMATKAN MANUSIA dan bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan umat manusia padahal manusia sudah lebih dari hina dan menyakiti hati Tuhan. Jujur, kalau aku ditempatka disitu aku akan turun ke bumi dan akan menertawakan dan menghakimi mereka dengan segala hal yang mereka perbuat, tetapi disini Tuhan malah melakukan sebaliknya. Terlepas dari jawaban Tuhan itu pasti baik, aku memiliki pandangan yang berbeda, dalam hal ini Tuhan memilih mengorbankan nyawanya karena Ia ingin melihat anak-anak Tuhan bisa belajar dan berproses untuk dibentuk serupa dengan dirinya.

Berkaca lebih jauh, menariknya proses untuk dibentuk menjadi serupa dengan Tuhan terus kita jalani bahkan sampai kita dewasa..., 

pernah ga kepikiran setelah diamati sebenarnya cara Tuhan bertindak dan mengorbankan nyawanya untuk umat manusia, hampir sama dengan Orang Tua yang sudah disakiti oleh anak-anak nya yang bahkan tetap rela mengorbankan nyawanya untuk anak-anaknya tetap hidup dan sukses. Melihat hal tersebut, aku menjadi semakin berpikir bahwa semakin dewasa semakin menyadari bahwa semua sudah dijalani dan pada akhirnya sudah waktunya memberikan kesempatan dan membentuk PERSEMBAHAN berikutnya untuk Tuhan. 

Sejujurnya, menyadari hal tersebut aku pernah berpikir tentang ketakutan ku menjadi orang dewasa dan menjadi orang tua, bukan tentang materi tetapi tentang apakah aku bisa lebih berhikmat dan bijaksana, tentang bagaimana mendidik anak, apakah aku bisa menjadi suami yang baik bagi istriku dan menjadi ayah yang bijak bagi anak-anak-ku, dan apakah aku mendidik anakku dengan baik. Aku bahkan sempat berpikir untuk tidak memiliki anak, tetapi kini ketakutanku sudah semakin memudar karena aku menyadari bahwa pelajaran menjadi seorang ayah dan dewasa itu adalah proses sebagaimana Tuhan membentuk kita menjadi pribadi serupa dengannya, mungkin ada salahnya, mungkin ada gagalnya tetapi Tuhan akan menemani jalan itu. Perenungan ini bukan hanya mengajarkanku untuk bergantung kepada Tuhan saja, melainkan tentang menyadari, menjadi, dan memberi PERSEMBAHAN (Kejadian 22) yang baik dan benar bagi Tuhan.

Comments

Popular posts from this blog

Surat untuk TPB 22